Kecolongan berasal dari kata colong (kata kerja bahasa Jawa) yang berarti curi, mengambil barang yang tergeletak diam, baik disimpan atau tidak bukan miliknya tanpa sepengetahuan si pemilik.
Ditambah awalan ke dan akhiran an pada kata kerja berarti tidak sengaja.
Jadi arti keseluruhan kecolongan adalah baru merasa kehilangan setelah miliknya nyata-nyata diambil orang.
Kecolongan biasanya dilontarkan oleh orang yang yakin bahwa barang miliknya tidak mungkin akan hilang diambil orang.
Atas dasar keyakinan inilah orang merasa tidak usah merawat barang miliknya baik dengan menyingkirkan ke tempat aman maupun melindunginya dari terpaan angin, hujan, sinar matahari ataupun tangan-tangan jahil manusia ataupun hewan.
Jadi kalau kemudian ada orang yang membahas panjang lebar tentang betapa sedihnya telah kehilangan barang yang notabene tidak dirawatnya, alangkah picik dan naifnya orang itu.
Merasa kehilangan jika memang orang benar-benar telah merawat dengan segenap jiwanya namun ternyata hilang juga.
Lha wong tidak pernah merawat dan cenderung mengabaikan lha kok merasa kehilangan setelah barang itu diambil orang lain untuk dirawatnya.
Hal ini sangat sering terjadi pada manusia atau pun hewan.
Hewan yang disia-siakan oleh pemiliknya cenderung akan lari dan mencari pemilik baru yang lebih memperhatikan hidupnya. Hewan saja begitu apatah lagi manusia yang mempunyai akal dan pikiran.
Maka renungkanlah wahai para pemimpin yang jika mempunyai bawahan janganlah engkau sia-siakan. Penuhilah kebutuhan hidupnya atau paling tidak perhatikan apa yang menjadi kebutuhan dasar dalam hidupnya.
Ingatlah akan sebuah Hadits Nabi: “Setiap manusia adalah pemimpin. Pemimpin akan dimintai pertanggung-jawaban atas apa-apa yang dipimpinnya”
Haurgeulis, pertengahan Oktober 2010
Haurgeulis, pertengahan Oktober 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar